Santri Sehat Mandiri melalui Penguatan Media Kreatif dan Monitoring Program Kesehatan Pesantren
Santri Sehat Mandiri melalui Penguatan Media Kreatif dan Monitoring Program Kesehatan Pesantren
Sidoarjo, 20 Juni 2026 - Dalam rangka mendukung keberlanjutan Program Santri Sehat Mandiri, mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) bersama kader Santri Husada melaksanakan dua kegiatan utama, yaitu SIGMA (Santri Inspiratif Gerakan Media Kreatif) dan Senam GESIT (Gerakan Santri Sehat dan Aktif). Kedua kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran aktif santri dalam promosi kesehatan sekaligus memastikan implementasi program kesehatan di lingkungan pesantren berjalan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan SIGMA, para kader santri tidak hanya dilatih untuk menghasilkan konten edukasi yang kreatif, tetapi juga didorong menjadi agen perubahan yang mampu menyampaikan informasi kesehatan melalui media digital. Penyusunan kalender konten secara berkala diharapkan dapat menjaga keberlanjutan penyebaran informasi kesehatan sehingga pesan-pesan promotif dan preventif dapat menjangkau lebih banyak santri.
Kegiatan kedua adalah monitoring dan evaluasi Program Senam GESIT serta pelaksanaan Tablet Tambah Darah (TTD) kepada penanggung jawab (PJ) di masing-masing yayasan. Monitoring dilakukan untuk mengetahui keberlangsungan pelaksanaan program sekaligus mengidentifikasi kendala yang dihadapi selama implementasi.
Berdasarkan hasil monitoring, pelaksanaan Senam GESIT masih berjalan di setiap yayasan, baik Yayasan Putri dan Tahfidz maupun Yayasan Putra dan Tahfidz. Namun, waktu pelaksanaannya disesuaikan dengan agenda dan jadwal kegiatan masing-masing yayasan sehingga pelaksanaan senam memiliki penyesuaian pada setiap lokasi. Meskipun demikian, kegiatan senam tetap menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan aktivitas fisik dan kebugaran santri.
Sementara itu, untuk program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD), penanggung jawab kegiatan telah dialihkan kepada guru sekolah dengan dukungan distribusi dari puskesmas setempat. Penyaluran TTD secara umum berjalan cukup rutin, meskipun pada beberapa periode sempat mengalami kendala berupa keterbatasan stok. Hasil monitoring juga menunjukkan bahwa evaluasi kepatuhan konsumsi TTD setiap minggu belum dapat dilakukan secara optimal. Hal ini disebabkan karena tablet sering kali dibagikan sekaligus sebanyak empat butir untuk kebutuhan satu bulan, sehingga belum tersedia mekanisme yang dapat memastikan bahwa tablet tersebut benar-benar dikonsumsi setiap minggu sesuai anjuran.
Melalui pelaksanaan kegiatan SIGMA serta monitoring dan evaluasi Program Senam GESIT dan TTD, diharapkan kader Santri Husada semakin aktif dalam mendukung promosi kesehatan dan penguatan program kesehatan di lingkungan pesantren. Sinergi antara kader santri, guru, dan puskesmas diharapkan mampu mewujudkan lingkungan pesantren yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan sebagai bagian dari implementasi Program Santri Sehat Mandiri.



Komentar
Posting Komentar